Minggu, 22 Juli 2012

Sabtu, 21 Juli 2012

Mat 12:14-21
Sekali peristiwa orang-orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Yesus. Tetapi Yesus tahu maksud mereka, lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Dia, dan Ia menyembuhkan mereka semua. Dengan keras Ia melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah sabda yang telah disampaikan oleh nabi Yesaya. "Lihatlah, itu hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepadanya jiwa-Ku berkenan. Roh-Ku akan Kucurahkan atas Dia, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada sekalian bangsa, Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak, suara-Nya tidak terdengar di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai ia menjadikan hukum itu menang. Kepada-Nyalah semua bangsa akan berharap."

JANGAN BALAS DENDAM!
Nabi mengecam penguasa yang memimpin rakyat dengan tangan besi. Secara terang nabi mengatakan bahwa kepemimpinan demikian merupakan perbuatan dosa yang dimulai dengan kata: "celakalah", menyusul hukuman dari Tuhan dan akibatnya. Bahkan nabi menggambarkan kejahatan itu sebagai kerakusan yang haus akan kekuasaan. Tuhan tidak menghendaki penderitaan yang diakibatkan oleh penguasa demikian. Maka Tuhan mencabut kuasa itu dari pemimpin demikian sehingga mereka kehilangan kekuasaannya.
Penderitaan rakyat akibat kepemimpinan tangan besi juga dialami oleh Yesus. Bedanya, penginjil dengan mengutip nabi Yesaya mengatakan bahwa Yesus tidak pernah membalas rencana jahat dari kaum Farisi terhadap-Nya. Yesus lebih memilih menghindari mereka dengan menyembuhkan orang sakit dalam beraneka kesulitan. Segala penderitaan-Nya disampaikan-Nya kepada Bapa lewat doa. Yesus Hamba Allah tahan menderita sehingga berkenan pada Bapa-Nya.
Kita pun hendaknya memandang Yesus sebagai Hamba karena dia solider dengan manusia dengan rela kehilangan keilahian-Nya untuk semakin serupa dengan kita. Dia tidak menuntut apa pun, tetapi memperhatikan sesama yang menderita. Inilah hati Yesus, hati Allah kita. Yesus merupakan teladan cinta kasih. Perjumpaan dengan-Nya hendaknya memperkaya perasaan dan sikap kita (SS).

Pelita Hati: Janganlah balas dendam terhadap penguasa tetapi lakukanlah hal berharga terhadap sesama.

Jumat, 20 Juli 2012

Mat 12:1-8
Pada suatu hari Sabat, Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum. Karena lapar murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada Yesus,
"Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat." Tetapi Yesus menjawab, "Tidakkah kalian baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan para pengikutnya lapar? Ia masuk ke dalam bait Allah, dan mereka semua makan roti sajian yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Atau tidakkah kalian baca dalam Kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu; Di sini ada yang melebihi bait Allah. Seandainya kalian memahami maksud sabda ini, 'Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,' tentu kalian tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
Sebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

DICINTAI ALLAH
Salah satu tugas seorang nabi adalah dengan cahaya ilahi, menafsir kejadian dan arah sejarah bangsa Israel. Tugas itu dilaksanakan oleh nabi Yesaya pada Raja Hiskia tentang penyakit raja dan penyembuhannya. Hasilnya, raja sakit parah dan telah dekat dengan kematiannya. Situasi ini membuat raja cemas sehingga ia berdoa kepada Tuhan. Doanya memohon agar Tuhan mengingat bahwa dia telah hidup dengan setia dan melakukan apa yang baik di hadapan Tuhan. Permohonan itu mendapat respon dari Tuhan melalui nubuat nabi Yesaya: Tuhan telah mendengar doamu dan Ia mengabulkannya dengan memperpanjang umurmu 15 tahun lagi.
Pengalaman Raja Hiskia yang dicintai Allah mirip dengan pesan Injil hari ini. Pesan Injil hari ini cukup sederhana, yakni hukum harus dibarengi dan ditegakkan dengan cinta sehingga kita mengerti apa makna yang terdapat dalam hukum itu. Dengan mengerti makna dari hukum itu akan membuat kita bijaksana menilai kesalahan dan perbuatan setiap orang dengan terang dan kebenaran. Dengan kata lain, hukum harus mempertimbangkan aspek keadilan dan hati bukan tumpul pada orang kecil.
Perintah atau peraturan dari Gereja bukanlah otomatis menyelamatkan manusia. Manusialah yang menyelamatkan diri mereka melalui perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan menyelamatkan kita melalui wafat dan kebangkitan-Nya dan Sabda-Nya adalah pelita yang mengarahkan hidup kita ke terang dan kebenaran. Tuhan dekat pada orang yang berseru dan memberi jawaban atas segala jeritan, karena belas kasih-Nya (SS).

Pelita Hati: Allah selalu menampakkan belas kasih-Nya pada orang yang setia pada-Nya dengan cara yang spesial.

Kamis, 19 Juli 2012

Mat 11:28-30
Sekali peristiwa bersabdalah Yesus, "Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati. Maka hatimu akan mendapat ketenangan. Sebab enaklah kuk yang kupasang, dan ringanlah beban-Ku."

TINDAKAN TUHAN
Kitab nabi Yesaya dalam bacaan pertama merupakan petunjuk tentang bagaimana Tuhan bertindak terhadap orang yang mengikuti kebijaksanaan ilahi dan anugerah-anugerah yang diberikan kepada mereka yang taat kepada-Nya. Di dalamnya terdapat pengakuan mengenai bagaimana Tuhan bertindak dalam sejarah manusia dan bagaimana manusia belajar berperilaku adil dan baik berdasarkan peristiwa dan kegagalan. Sebab hanya Tuhan yang dapat menjauhkan kegelapan; Dialah pemberi keadilan, kedamaian, dan keberhasilan pada yang setia.
Injil hari ini melanjutkan doa syukur Yesus. Di mana seorang sebelum disebut "kecil", maknanya diperluas menjadi golongan orang yang lelah, lapar, haus, dan tertindas. Siapa dari mereka yang setia mengikuti Yesus akan menikmati kedamaian – shalom. Kata kuk dapat diartikan secara simbolis, sebagai suatu beban untuk mengikuti ratusan perintah dan larangan yang ada dalam PL dan  disimpulkan oleh Yesus dalam satu perintah yang bercabang: kasih Tuhan dan sesama. Bukan berarti bahwa ajakan Yesus hanya untuk mereka yang termasuk dalam golongan 12 orang saja, tetapi juga untuk kita: belajar pada-Ku, Aku lemah- lembut dan rendah hati.
Inilah wajah sejati Yesus: rendah hati, tak menggunakan kekerasan, menerima semua, dan solider dengan sejarah manusia yang ditandai dengan derita dan siksaan. Dia seperti orang Samaria yang baik hati, dekat pada setiap orang yang luka dalam badan dan jiwa; Dialah yang akan membawa kasih dan penghiburan. Kuk Yesus adalah jalan yang telah didahului, membawa harapan dan angin yang baru (SS).

Pelita Hati: Kuk Yesus adalah jalan yang telah didahului, membawa harapan dan angin yang baru.

Rabu, 18 Juli 2012

Mat 11:25-27
Sekali peristiwa berkatalah Yesus, "Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi! Sebab semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang  pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Semua telah diserahkan oleh Bapa-Ku kepada-Ku, dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, serta orang-orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya."

BEBAS DARI RASA TAKUT
Nubuat nabi Yesaya merupakan suatu permenungan mendalam berkaitan dengan kejadian sejarah pada waktu itu. Ketika itu, penguasa Assir diangkat oleh Allah sebagai alat untuk melindungi bangsa Yahudi, agar mereka kembali setia pada-Nya. Tetapi Assir malah menyalahgunakan kepercayaan dan peranan yang diberikan Allah padanya. Kepercayaan Allah itu mereka selewengkan dengan menggunakan kekerasan dan keangkuhan untuk menindas bahkan berencana menghancurkan bangsa Yahudi. 
Penderitaan bangsa Yahudi ini hampir serupa dengan kisah Yesus dalam Injil hari ini. Dalam Injil, Yesus berdoa dan mengajak kita untuk menerima Dia. Yesus berdoa saat muncul penolakan terhadap ajaran dan karya-Nya. Yesus tidak disambut baik oleh sebagian besar masyarakat Yahudi. Hal itu membuat Ia berdoa sebab hanya dalam Diri Bapa-Nyalah Yesus berteduh. Doa syukur sebagai berkat atas rencana ilahi. Kata-kata dalam doa syukur ini merupakan kabar baik bagi mereka yang menganggap diri kecil. Dalam kata-kata ini terlukis kebahagiaan bagi "orang miskin".
Mendengar kata-kata doa Yesus ini kita dibebaskan dari rasa takut atas keterbatasan pribadi kita dan membuka cakrawala sampai kita bisa menyentuh hati Allah Bapa bersama Putra-Nya. Kita, dalam diri Yesus ambil bagian dalam keputraan ilahi dan diperkaya oleh-Nya. Maka siapa merasa diri kuat, besar, memiliki kekuasaan, merendahkan, dan menindas orang lain, seperti dalam bacaan pertama, mereka akan gagal dan tidak dapat menikmati kebesaran kasih Allah (SS).

Pelita Hati: Orang yang merasa besar di hadapan Allah merupakan orang yang gagal dan tidak akan menikmati kebesaran Allah.

Selasa, 17 Juli 2012

Mat 11:20-24
Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat meskipun di sana Ia melakukan paling banyak mukjizat. Ia berkata,"Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau, Betsaida! Karena jika di Tirus dan Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah Kulakukan di tengah-tengahmu, pasti sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu, 'Pada hari penghakiman tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu.'
Dan engkau, Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak! Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati?
Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Maka Aku berkata kepadamu, "Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom, akan lebih ringan daripada tanggunganmu."

BERTOBATLAH!
Karya nabi Yesaya terlibat dalam politik yang menimpa bangsa Yehuda. Keterlibatan itu memaksa nabi turun tangan untuk mencegah Raja Akas berperang dengan tentara Assiria. Hal itu karena perang tidak akan menyelamatkan Yerusalem dan rakyat. Yerusalem dan rakyat akan selamat bila raja percaya pada Yahwe. Nabi meyakinkan raja untuk percaya pada Yahwe karena dari Yahwelah diperoleh stabilitas dan perlindungan, bukan dari kekuatan senjata.
Pertentangan yang terjadi pada era nabi Yesaya mirip dengan Injil hari ini. Dalam Injil hari ini, muncul dua sikap yang bertentangan satu sama lain, yaitu yang menerima Yesus dan berjuang bersama-Nya dan sikap tidak percaya dengan akibat bahwa kelompok atau kota yang bersikap tak menerima Yesus akan hancur. Teguran dan ancaman Yesus terhadap tiga kota itu, yakni Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Di tengah kota-kota ini Yesus telah menunjukkan karyanya yang disertai dengan mukjizat, tetapi penduduk tetap tidak menerima Yesus. Hal itu membuat Yesus mengucapkan nada ancaman dengan kata "celakalah". Ancaman ini diungkapkan Yesus sebagai ajakan kepada mereka untuk bertobat.
Nasib ketiga kota yang tidak bersedia menerima Yesus ini hendaknya menjadi suatu peringatan yang kuat dan menuntut perubahan tingkah laku kita. Hal itu mengingat di daerah mana pun karya keselamatan tidak akan nyata bila kita tidak bertobat dan menerima Injil. Sebab mendengar Sabda ilahi sungguh-sungguh membebaskan kita dari kebutaan hati. Celakalah, itu bukan untuk menimbulkan ketakutan, rasa gelisah, dan ancaman melainkan menyegarkan semangat kesetiaan karena hanya Injil yang mampu membawa kita kepada kehidupan (SS).

Pelita Hati: Hanya Injil yang mampu membawa kita kepada kehidupan.